- Research Article
- 10.1182/blood-2025-4459
Treatment patterns and outcomes among warm autoimmune hemolytic anemia patients receiving rituximab in the United States: A retrospective database study
- Nov 03, 2025
- Blood
- Louis Jackson + 5 more +5
Publications from 2021 to 2026
Showing 10 of 25 papers
Treatment patterns and outcomes among warm autoimmune hemolytic anemia patients receiving rituximab in the United States: A retrospective database study
Biomarker correlates of clinical outcomes from a global Phase 1b study of JNJ-90014496, CD20/CD19 bi-specific chimeric antigen receptor (CAR) T-cell therapy for patients with large B-cell lymphoma (LBCL)
P.104 A portrait of generalized Myasthenia Gravis in Canada: analysis of the Adelphi MG II disease specific programme
Background: Generalized myasthenia gravis (gMG) is a rare, chronic, autoimmune disease characterized by muscle weakness and fatigue. This study aims to describe the natural history, disease burden and treatment patterns of gMG patients in Canada. Methods: Data was analyzed from the Adelphi MG II DSP™, a gMG patient-level cross-sectional database, collected through surveys between February-June 2024. Neurologists provided sociodemographic, symptomatology, and treatments data. Results: Fifteen neurologists provided data for 46 gMG patients. The cohort’s mean (SD) age was 58.1 (14.7) years, 52.2% male, 82.6% White/Caucasian and 89.1% were anti-AChR Ab positive. Mean time since diagnosis was 3.4 (3.1) years, 22% reported a change in employment status due to gMG. Most had public insurance (68.9%). Disease severity was mostly MGFA class II (78.2%) patients. Common symptoms included eyelid ptosis (76.1%), dysarthria (50.0%), and dyspnea (54.3%) – mean MG-ADL was 5.6 (5.1). During their disease course, 34.9% experienced ≥1 myasthenic crisis, while 25.6% reported symptom exacerbation. At time of survey, patients had used 1.8 (0.9) lines of maintenance treatment. Most prescribed treatments (alone or in combinations) were pyridostigmine (95.6%), corticosteroids (48.9%), non-steroidal immunosuppressants (42.2%), Immunoglobulins (31.1%), and biologics (22.2%). Conclusions: gMG patients continue to experience symptoms burden and crisis/exacerbations. These findings highlight an unmet need for new, safe and effective therapeutics that are publicly covered to manage gMG-related clinical manifestations.
Read moreEvaluasi Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Pada Industri Rumah Potong Ayam dan Makanan Olahan
Industri rumah potong ayam dan makanan olahan menghasilkan limbah B3 berasal dari proses pembersihan, pengawetan, serta bahan tambahan yang digunakan dalam rumah potong ayam dan makanan olahan, seperti limbah kemasan bekas bahan kimia, minyak pelumas bekas, aki dan baterai bekas, filter udara genset dan boiler, kain majun bekas, limbah terkontaminasi B3, dan limbah elektronik. Analisis ini dilakukan untuk mengidentifikasi pengelolaan limbah B3, melakukan evaluasi sistem pengelolanya, serta memberikan rekomendasi untuk perbaikan pengelolaan limbah B3 yang sudah diterapkan sebuah perusahaan berdasarkan peraturan yang ada. Metode analisis yang diterapkan untuk menilai pengelolaan limbah B3, digunakan metode Skala Guttman. Hasil dari evaluasi menunjukkan bahwa kegiatan penyimpanan mencapai tingkat kepatuhan sebesar 84,6%. Kegiatan pengemasan dan pewadahan memiliki kepatuhan 77,8%. Kegiatan peletakkan simbol dan label memiliki kepatuhan 87,5%. Kepatuhan perusahaan dalam kelengkapan dokumen sebesar 85,7%. Sehingga, berdasarkan hasil rekapitulasi Industri Rumah potong ayam dan makanan olahan mendapatkan kategori ‘Sangat Baik’ dalam mengelola limbah B3 dengan nilai presentase 83,9%. Namun masih banyak aspek yang perlu diperbaiki untuk meningkatkan standar ketaatan pengelola limbah B3 dalam menangani limbah B3 sesuai dengan aturan yang berlaku.
Read moreKONSEP HEALING ENVIRONMENT DI RUMAH SAKIT DARMO SURABAYA
Lingkungan fisik di dalam rumah sakit memiliki peran yang sangat penting selama proses penyembuhan pasien. Faktor seperti sirkulasi udara yang buruk, pencahayaan yang tidak memadai, dan kurangnya elemen pendukung dapat membuat lingkungan rumah sakit menjadi tidak nyaman. Maka dari itu, lingkungan rumah sakit harus menciptakan suasana yang tenang dan nyaman, memberikan energi positif kepada pasien, serta meningkatkan interaksi antara individu dengan lingkungannya. Konsep Healing Environment telah mendapatkan perhatian besar di lingkungan pelayanan kesehatan, bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan pasien dan berkontribusi pada penyembuhan. Penelitian ini berfokus pada implementasi dan evaluasi konsep Healing Environment di Rumah Sakit Darmo Surabaya. Metode penelitian yang digunakan adalah adalah kualitatif dengan jenis studi kasus. Data dikumpulkan melalui studi literatur dan observasi lapangan yang dilakukan di rumah sakit tersebut. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa Rumah Sakit Darmo Surabaya telah berhasil menerapkan faktor-faktor Healing Environment yang mendukung proses kesembuhan pasien. Desain rumah sakit yang memperhatikan pencahayaan alami, sirkulasi udara yang baik, ruang hijau, serta penggunaan warna yang menenangkan, menciptakan lingkungan yang nyaman dan mendukung pemulihan fisik dan psikologis pasien. Selain itu, penataan ruang yang mengurangi kebisingan dan memberikan akses ke alam serta kegiatan di luar ruangan juga berkontribusi pada kenyamanan dan kesejahteraan pasien. Faktor-faktor ini secara keseluruhan menciptakan suasana yang mendukung proses penyembuhan yang lebih efektif.
Read morePERKEMBANGAN FRAUD THEORY DAN RELEVANSI DALAM REALITA
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami perkembangan teori fraud dan relevansinya dengan kondisi di lapangan. Kecurangan (fraud) merupakan risiko yang ada dalam setiap kegiatan usaha terutama dalam laporan keuangan perusahaan yang digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan. Tiga kategori utama kecurangan antara lain penyalahgunaan asset, korupsi dan kecurangan dalam laporan keuangan. Penelitian tentang motivasi terjadinya fraud juga semakin berkembang, dari fraud triangle theory sampai dengan fraud hexagon theory. Penelitian ini menggunakan metode literature review untuk memahami perkembangan teori fraud dan relevansinya di kondisi saat ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan teori fraud sesuai dengan realita dimana saat ini pemicu terjadinya fraud tidak hanya disebabkan oleh Tekanan, Kesempatan dan Rasionalisasi, tetapi juga disebabkan adanya kapabilitas, arogansi dan kolusi. Hal ini ditunjukkan dengan survey yang dilakukan oleh ACFE yang menyatakan bahwa fraud yang dilakukan oleh pemilik atau eksekutif perusahaan menimbulkan kerugian yang signifikan dibandingkan dengan fraud yang dilakukan oleh karyawan. Pemimpin yang memiliki tingkat arogansi tinggi dan memiliki kecenderungan memaksa bawahannya untuk membantu menutupi kecurangan yang dilakukan sehingga terbentuklah sebuah kolusi yang menimbulkan kerugian besar bagi perusahaan karena kecurangan berhasil ditutupi dalam jangka waktu yang Panjang.
Read moreGastrointestinal Malignancies
Final 192‐week efficacy and safety of once‐daily darunavir/ritonavir compared with lopinavir/ritonavir in <scp>HIV</scp>‐1‐infected treatment‐naïve patients in the <scp>ARTEMIS</scp> trial
This paper presents the final analysis of once-daily darunavir/ritonavir (DRV/r) vs. lopinavir/ritonavir (LPV/r) in treatment-naïve HIV-1-infected adults. ARTEMIS (AntiRetroviral Therapy with TMC114 ExaMined In naïve Subjects; NCT00258557) was a randomized, open-label, phase-III, 192-week trial. Patients were stratified by baseline HIV-1 RNA and CD4 count, and randomized to once-daily DRV/r 800/100 mg or LPV/r 800/200 mg total daily dose (either once or twice daily) plus tenofovir/emtricitabine. Of 689 randomized patients receiving treatment (DRV/r: 343; LPV/r: 346), 85 and 114 patients in the DRV/r and LPV/r arms, respectively, had discontinued by week 192. Noninferiority was shown in the primary endpoint of virological response (HIV-1 RNA < 50 copies/mL) [DRV/r: 68.8%; LPV/r: 57.2%; P < 0.001; intent to treat (ITT)/time to loss of virological response; estimated difference in response 11.6% (95% confidence interval 4.4-18.8%)]. Statistical superiority in virological response of DRV/r over LPV/r was demonstrated for the primary endpoint (P = 0.002) and for the ITT non-virological-failure-censored analysis (87.4% vs. 80.8%, respectively; P = 0.040). No protease inhibitor (PI) primary mutations developed and only low levels of nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NRTI) resistance developed in virological failures in both groups. Significantly fewer discontinuations because of adverse events were observed with DRV/r (4.7%) than with LPV/r (12.7%; P = 0.005). Grade 2-4 treatment-related diarrhoea was significantly less frequent with DRV/r than with LPV/r (5.0% vs. 11.3%, respectively; P = 0.003). DRV/r was associated with smaller median increases in total cholesterol and triglyceride levels than LPV/r. Changes in low- and high-density lipoprotein cholesterol were similar between groups. Similar increases in aspartate aminotransferase and alanine aminotransferase for DRV/r and LPV/r were observed. Over 192 weeks, once-daily DRV/r was noninferior and statistically superior in virological response to LPV/r, with a more favourable gastrointestinal profile, demonstrating its suitability for long-term use in treatment-naïve patients.
Read moreThe role of user-driven security in data loss prevention
Maternal buprenorphine dose, placenta buprenorphine, and metabolite concentrations and neonatal outcomes.
Buprenorphine is approved as pharmacotherapy for opioid dependence in nonpregnant patients in multiple countries and is currently under investigation for pregnant women in the United States and Europe. This research evaluates the disposition of buprenorphine, opiates, cocaine, and metabolites in five term placentas from a US cohort. Placenta and matched meconium concentrations were compared, and relationships among maternal buprenorphine dose, placenta concentrations, and neonatal outcomes after controlled administration during gestation were investigated. Buprenorphine and/or metabolites were detected in all placenta specimens and were uniformly distributed across this tissue (coefficient of variation less than 27.5%, four locations), except for buprenorphine in three placentas. In two of these, buprenorphine was not detected in some locations and in the third placenta was totally absent. Median (range) concentrations were 1.6 ng/g buprenorphine (not detected to 3.2), 14.9 ng/g norbuprenorphine (6.2-24.2), 3 ng/g buprenorphine-glucuronide (1.3-5.0), and 14.7 ng/g norbuprenorphine-glucuronide (11.4-25.8). Placenta is a potential alternative matrix for detecting in utero buprenorphine exposure, but at lower concentrations (15- to 70-fold) than in meconium. Statistically significant correlations were observed for mean maternal daily dose from enrollment to delivery and placenta buprenorphine-glucuronide concentration and for norbuprenorphine-glucuronide concentrations and time to neonatal abstinence syndrome onset and duration, for norbuprenorphine/norbuprenorphine-glucuronide ratio and maximum neonatal abstinence syndrome score, and newborn length. Analysis of buprenorphine and metabolites in this alternative matrix, an abundant waste product available at the time of delivery, may be valuable for prediction of neonatal outcomes for clinicians treating newborns of buprenorphine-exposed women.
Read more